CERITA RUSDI BAGIAN 55: FARHAN DAN NISA BEREBUTAN


Image

Jum’at malam, saat rusdi baru pulang kerja, Farhan dan Nisa mengusulkan acara main bulutangkis sabtu pagi. Rusdi dan Aisyah menyambut antusias usulan mereka. Mulailah Aisyah menyiapkan pakaian olah raga untuk anak dan suaminya.

Sabtu pagi,mereka bermain bulu tangkis berpasangan.  Rusdi berpasangan dengan Nisa melawan Aisyah berpasangan dengan Farhan. Selama permainan, tak henti hentinya mereka tertawa karena kelucuan yang tak terduga.  Set pertama dimenangkan pasanagan Aisyah dan Farhan dengan skor 21-15 dan set ke dua dimenangkan pasangan Rusdi dan Nisa dengan skor 21-17.

Setelah dua jam bermain akhirnya mereka istirahat sebentar sambil menikmati jus Tomat buatan Aisyah. Kemudian mereka pulang dengan menggunakan motor. Sesampainya dirumah, aisyah langsung ke dapur untuk masak, Farhan dan nisa pergi keluar rumah untuk bermain dengan teman temannya sedangkan rusdi duduk dibelakang rumah sambil membaca Novel yang baru di belinya “PEREMPUAN YANG MELUKIS WAJAH” yang berkisah tentang perjumpaan, kehangatan dalam sebuah pertemuan belahan jiwa di bandara perhentian yang ramai saat hujan deras.

Baru beberapa jam membaca novelnya, Rusdi kedatangan tamu yang tak lain teman kuliahnya dulu. “Rus, kenalin teman gue sekaligus guru ngaji gue nih. Namanya Hasyim” kata Syahrul. Rusdi langsung berjabat tangan sambil memperkenalkan diri, “nama saya Rusdi”.

Aisyah selalu sigap menyediakan air minum dan camilan bila ada teman Rusdi berkunjung kerumah. Mereka ngobrol ngalur ngidul dari masalah politik, social, budaya hingga ke dunia maya. “bagi saya, membantu kesulitan sesama muslim itu adalah sebuah keharusan.  Yang saya sesalkan, kesedihan saudara kita di palestina dan afrika dieksploitasi dalam emphatic belaka tanpa action. Paling paling hanya disuruh “like” atau “comment” yang tak berpengaruh apa apa pada kehidupan mereka” kata Hasyim.

“heheh..namanya juga dunia maya. Nyantai aja..” kata rusdi sambil menyeruput kopi hitamnya.

“gak bisa begitu. Kita harus buat gerakan agar kita gak hanya ngomong doang” kata hasim sengit.

“mulai dari diri kita masing masing aja..” kata Rusdi lagi.

“gak bisa gitu. Kita harus bisa menggerakan mereka untuk cation lebih nyata”

“wahh itu sangat sulit karna keberagaman cara fikir dan pandang mereka” jawab Rusdi lagi

“harus bisa disamakan!!” kata hasyim  semangat.

Rusdi hanya tersenyum seperti enggan mengomentari lagi. Saat bersamaan seorang pengemis datang kerumah untuk meminta beras atau uang. Rusdi langsung cepat merogoh kantongnya dan memberikan lembaran limaribuan pada pengemis itu.

“Nahh..  yang seperti itu saya juga gak setuju. Mmemberikan uang pada pengemis akan membuat mereka jadi lemah dan malas” kata hasyim lagi.

“wahh.. saya gak berfikir sampai segitunya. Siapa tahu dia memang sedang membutuhkannya” kata Rusdi.

“mereka harus bekerja! Tdk boleh meminta minta!” kata Hasyim.

Kembali rusdi hanya tersenyum seperti enggan lagi menanggapi pernyataan orang yang baru saja ia kenal.

Tiba tiba Farhan dan Nisa berlari kedalam rumah menemui Rusdi. “ayah tahu kan Arya, teman Farhan?” Tanya Farhan.

“iya, ayah tahu. Kenapa?” Tanya Rusdi.

“Dia pinjam uang dua puluh ribu buat beli makan sama pampers untuk adeknya” kata Farhan

“Neneknya belum pulang?” Tanya Rusdi.

“belum. Dia sendiri aja dirumah sama adeknya” Kata Farhan lagi.

Rusdi kembali merogoh dompetnya untuk mengambil uang duapuluh ribu. “Farhan punya simpenan. Biar pake uang Farhan aja” kata Farhan.

“kamu simpen aja duitnya. Biar pake duit ayah” kata Rusdi lagi.

“gak mau. Farhan juga mau masuk syurga. Biar pake duit farhan aja” kata Farhan bertahan sama pendapatnya.

“Nisa juga mau ikutan. Nisa juga mau masuk Syurga” celetuk nisa tak mau kalah.

“hahah.. yaudahh.. kita patungan aja. Farhan mau kasih berapa?” Tanya Rusdi.

“dua puluh ribu” jawab Farhan spontan.

Tiba tiba dari dapur Aisyah berucap, “bunda ikutan lima ribu buat Arya”.

“Nisa juga lima ribu. Sebentar Nisa ambil dulu ditas sekolah nisa” kata nisa sambil berlari kedalam kamar.

“Yaudah..ayah juga ikutan lima ribu. Bolehkan?” kata Rusdi.

“oke..siip.. jadi semuanya tigapuluh limaribu buat Arya” kata Farhan gembira. Stelah terkumpul, Farhan dan nisa berlari keluar rumah untuk memberikan uang yng terkumpul ke temannya.

“Anak pak rusdi kasih duit untuk temannya? Luar biasa ya” kata Hasyim terheran heran.

“Alhamdulillah..saya menggerakan setiap kebaikan pada diri saya sendiri dulu, lalu istri dan anak anak saya. Baru setelah itu teman, sahabat, tetangga. Cara berfikir saya sederhana gitu aja kok” kata Rusdi.

Hasyim termenung sejenak tanpa berkata apa apa.

Criing…..